Sang Fajar bergejolak...
Melahirkan Pertiwi dengan darah dan air mata...
Dengan Bambu dan Meriam...
Hingga pena dan kertaspun tak terhindarakan...
Dididik dengan cinta dan harapan...
Diberkahi dengan Tekad dan Tujuan...
serta diberi makan Pancasila....
Hingga ia siap untuk menuju kejayaan...
Pertiwi mulai berlari...
Melewati cobaan hidup yang baru...
Walau palu dan arit menghadang...
Ia tetap tersenyum dan berlari...
Berlari menuju hidup yang didambakannya...
Walau Bento MEnghadang dengan seribu pasukannya...
Ia Tetap Berlari...
Siangpun terbit...
Peluh mulai menetes dari kening pertiwi...
nafasnya mulai tersengal...
tetap berlari...
Sampai akhirnya ia terjatuh...
Tubuhnya penuh luka...
Air matanya menetes menangisi dirinya..
yang kini menemui senja...
Melahirkan Pertiwi dengan darah dan air mata...
Dengan Bambu dan Meriam...
Hingga pena dan kertaspun tak terhindarakan...
Dididik dengan cinta dan harapan...
Diberkahi dengan Tekad dan Tujuan...
serta diberi makan Pancasila....
Hingga ia siap untuk menuju kejayaan...
Pertiwi mulai berlari...
Melewati cobaan hidup yang baru...
Walau palu dan arit menghadang...
Ia tetap tersenyum dan berlari...
Berlari menuju hidup yang didambakannya...
Walau Bento MEnghadang dengan seribu pasukannya...
Ia Tetap Berlari...
Siangpun terbit...
Peluh mulai menetes dari kening pertiwi...
nafasnya mulai tersengal...
tetap berlari...
Sampai akhirnya ia terjatuh...
Tubuhnya penuh luka...
Air matanya menetes menangisi dirinya..
yang kini menemui senja...
