Terlihat serpihan dinding...
Di atas tumpukan raga...
Mengisahkan jeritan yang tak terlukiskan...
Dari roman yang berdarah - darah...
Dari jauh terdengar...
Nyanyian seorang bocah...
Mana ayahku...
Mana ibuku...
Tak kalah ratapan seorang wanita....
Yang menangis ria di samping suaminya...
Yang terbaring dinginan dan tak menggubris tangisnya...
Sengau memandang angkasa...
yang kian menghilang dari bola mataku...
Kapas dan Morfin tak lagi membantu...
Hanyalah engkau Kasih...
Hanyalah Engkau yang tetap bersinar...
Kala angkasa meredup...
Mengulurkan jembatan emas...
Menuju kearifan kekal...
Mantab!
BalasHapus